Bangsa Indonesia meneladani Bapak Guru Ki Hadjar Dewantara, sebagai tokoh pendidikan nasional, dan Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei.
Nah, tepat pada tanggal 2 Mei 2025, Profesor Suhubdy, guru kami yang bertinggal di Mataram, mengirim pesan pribadi kepada saya, cover buku Perguruan Tinggi dan Pembangunan Bangsa, Untaian Pemikiran Kritis dan Kolaboratif dengan narasi berikut:
Tema Hardiknas-2025:
”Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”
Selamat Memperingati Hardiknas ke-77 (02 Mei 1948 – 02 Mei 2025) semoga semua kita dapat mewujudkan:
KAMPUS BERDAMPAK
———
@SY: Fakultas Peternakan

Komen singkat saya, ternyata membuat Prof. Suhubdy mengirim buku ini sebagai hadiah spesial kepada saya. Editor buku setebal 668 halaman isi dan 34 halaman depan ini adalah Prof. Ir. Suhubdy, PhD. sendiri bersama Prof. Dr. Nasmi Herlina Sari, S.T., M.T. Prof. Suhubdy menulis pesan khusus untuk saya dibalik halaman cover depan, “Buku ini merupakah hadiah (complimentary copy) dari penulis dan/atau editornya. Bu dokter, semoga buku ini bermanfaat untuk membangun literasi IPTEKS.”
Terima kasih Prof. Suhubdy, buku ini sangat bagus untuk dibaca ditengah perubahan jaman yang semakin tidak jelas. Refleksi terhadap arah dan kualitas pendidikan di Indonesia terbaca jelas dalam buku ini. Bukan sekedar seremonial, tetapi upaya partisipasi para penulis mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Masyaa Allah… semoga Allah meridhai dan memberkahi, Aamiin.
Buku keren yang saya terima tanggal 5 Mei 2025 ini harus menunggu sampai 10 hari untuk saya baca. Kejadian yang tidak terduga terjadi dan membutuhkan konsentrasi untuk mengatasinya membuat saya harus menunda untuk memcaba buku keren ini. Buku ini sangat lugas membreakdown semua permasalahan bangsa: pendidikan, teknologi, pertanian, kemaritiman, peternakan, kesehatan, gizi, hukum, teknik, ekonomi, dan bisnis. Hampir semua bidang dibahas dalam buku ini dengan runtut dan jelas. Buku yang ditulis oleh 19 pakar ini layak dibaca dan diresapi.
Prolog buku pada bab 1 yang ditulis oleh editor berisi ringkasan semua bab yang tersedia. Kata kunci dalam membangun bangsa adalah kritis, kolaboratif, berkesinambungan dan paham potensi sumber daya. Negara kita terdiri dari 28 provinsi yang tersebar di sepanjang Sabang sampai Merauke. Semua bidang dapat berkontribusi dalam pendidikan bangsa dan pembangunan nasional. Bagaimana kita mengambil peran yang sesuai dan berkontribusi didalamnya?
Pelayanan kesehatan yang belum merata menjadi salah satu isu penting. Adanya distribusi dokter dan tenaga kesehatan yang tidak merata, banyak berkumpul di kota besar, menyebabkan perlu upaya khusus untuk meningkatkan kesehatan di daerah pedesaan bahkan di kota-kota kecil yang belum tersentuh dengan fasilitas memadai. Pemerintah sebagai leading sector perlu mengidentifikasi kekuatan dan upaya khusus untuk meningkatkan fasiltas kesehatan. Strategi ini berkesinambungan, tidak berganti hanya karena berganti pimpinan, tapi perlu meningkatkan monitoring dan evaluasi atas program atau strategi yang diambil.
Kesehatan ini sangat erat kaitannya dengan bidang lain. Kesehatan membutuhkan pendidikan agama yang kuat sehingga tidak ada lagi kasus pernikahan dini dan berakhir dengan stunting. Para calon ibu dan Ibu muda membutuhkan pendidikan yang baik dan gizi yang memadai untuk meningkatkan kualitas bayi dan anak-anak mereka. Bagaimana calon Ibu dididik dan diberi pengetahuan mengenai hak dan kewajiban seorang ibu, juga bagaimana merawat dan mendidik anak-anaknya nanti? Para akademisi tengah berjuang bagaimana mengoptimalkan peran dalam pembangunan bangsa, peran pemerintah di sini bersinergi dan berkolaborasi untuk mensukseskan program perguruan tinggi dengan cara memberikan fasilitas dan mendukung para akademisi berkolaborasi dengan praktisi tanpa beban administrasi yang terkadang cukup melelahkan dan aneh.
Era society 5.0 mengharuskan kita berpikir kritis dan kreatif dengan benteng agama yang kuat. Era saat ini menyebabkan kita mendapat informasi tanpa filter, sehingga perlu diperkuat bidang keagamaan kita. Tantangan perguruan tinggi sebagai agen perubahan pada semua lini dan semua sektor di Negara Indonesia ini sangat besar. Bagaimana memeratakan pendidikan tinggi dengan baik di seluruh pelosok negeri? Buku ini bercerita banyak mengenai bagaimana geografi Indonesia sangat mempengaruhi kualitas perguruan tinggi? Tidak perlu jauh-jauh ke pelosok negeri, perguruan tinggi di kota yang sama pun, mempunyai variasi sangat tinggi, terutama untuk PTN dan PTS yang maju dan apa adanya. Fasilitas pendidikan yang jauh dari sempurna, ditambah dengan tenaga pengajar yang tidak sesuai rationya bahkan tidak sesuai dengan kompetensinya membuat kualitas pendidikan tinggi semakin jauh dibanding dengan negara tetangga lainnya.
Sebagai contoh, perbandingan kecepatan internet di kota besar Indonesia saat ini adalah 25-50 Mbps dan Jepang pada 5 tahun lalu adalah 195 Mbps. Betapa besar perbedaan negara kita dengan negara sekitar kita. Contoh lain adalah masalah pendidikan. Pendidikan di Finlandia tidak ditemukan sekolah favorit, semua sekolah setara, mempunyai jam belajar yang pendek, anak dibebaskan dengan aktivitas fisik dan bermain, dengan biaya sekolah, makan, transportasi, dan buku ditanggung negara. Bagaimana dengan Indonesia? Ada kesenjangan besar antara sekolah negeri dan swasta, serta antara kota dan desa. Jam belajar pun panjang dan melelahkan dengan banyak tugas di rumah. Hasil akhir anak-anak akan tidak dapat berpikir kreatif, sangat tergantung dengan guru atau bimbingan dan beban stress tinggi. Ini juga menjadi PR bagi kalangan perguruan tinggi, lulusan kita masih banyak yang belum siap pakai, dan terpaksa menganggur.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya diatas kertas, tapi pemimpin yang dapat menata sampai tingkat pelosok. pemimpin yang mampu merumuskan dan melaksanakan strategi pembagunan sesuai akar permasalahan. Ketertinggalan negara kita sangat mencolok. Bagaimana pemerintah kita dapat mengakomodir para akademisi dan para praktisi agar lebih mempunyai dampak kepada masyarakat? Bagaimana pemerintah kita dapat meningkatkan peran akademisi dalam meningkatkan pemahaman budaya dan pengetahuan masyarakat serta pembangunan nasional? bukan malah memadamkan semangat akademisi dengan sistem yang tidak berpihak pada perubahan.
🦋Izzuki Muhashonah, Pembelajar asal Kab. Lamongan
Sekelumit cerita saya mengenal Prof. Suhubdy Yasin
Saya mengenal Prof. Suhubdy pertama kali saat beliau membedah buku Bunda Retno Kuntjorowati dari Cirebon. Kajian Spesial Jum’at Malam (KSJM) yang rutin diselenggarakan oleh IRo-Society, empowering and enlightening society yang didirikan oleh Prof. Imam Robandi, Ketua Dewan Profesor ITS. Prof. Suhubdy cukup sering mengikuti KSJM dan beberapa kali menjadi nara sumber KSJM. Beliau adalah Guru Besar dari Universitas Mataram (Unram), NTB. Sosok Prof. Suhubdy yang santun sangat menyukai puisi, menulis dan membaca puisi adalah salah satu kegemaran beliau menjadi pribadi yang mudah untuk disukai. Selain menulis puisi, beliua sangat menyukai membaca, semua genre, semua bidang buku beliau baca. Alhamdulillah, saya pernah sowan langsung ke Ndalem beliau di RP Gunsa (Rumah Pengetahuan Gunung Sari Indah). Suguhan ribuan buku di ndalem beliau sangat menyita perhatian dan meningkatkan semangat untuk membaca. Sehat selalu nggih Prof. Suhubdy, Barokallah… Aamiin

Terima kasih atas apresiasinya Madame Marlina Barokallah

Mantap betul, Bu Dokter Izzuki.

Aamiin, hahahaha, sampai berpantun pun tidak jelas rima nya terima kasih apresiasinya Bunda

takut kalah Bunda, hahhaha, terima kasih apresiasinya

Masyaa Allah. Mantap. Gercep

Terima kasih atas apresiasinya Madame Marlina Barokallah

Mantap betul, Bu Dokter Izzuki.

Aamiin, hahahaha, sampai berpantun pun tidak jelas rima nya terima kasih apresiasinya Bunda

takut kalah Bunda, hahhaha, terima kasih apresiasinya

Masyaa Allah. Mantap. Gercep

Terima kasih atas apresiasinya Madame Marlina Barokallah

Mantap betul, Bu Dokter Izzuki.

Aamiin, hahahaha, sampai berpantun pun tidak jelas rima nya terima kasih apresiasinya Bunda

takut kalah Bunda, hahhaha, terima kasih apresiasinya

Masyaa Allah. Mantap. Gercep

Terima kasih atas apresiasinya Madame Marlina Barokallah

Mantap betul, Bu Dokter Izzuki.

Aamiin, hahahaha, sampai berpantun pun tidak jelas rima nya terima kasih apresiasinya Bunda

takut kalah Bunda, hahhaha, terima kasih apresiasinya

Masyaa Allah. Mantap. Gercep
2 responses to “Pendidikan dan Pembangunan Bangsa”

Tulisan yang menggugah bu Izzuki. Kesetaraan pendidikan masih menjadi PR yang mahal dan dinantikan.

Inggih Bunda, yang pertama sebenarnya adalah agama. Nah 3 pilar ini yang menjadi penentu kemajuan dan pembangunan bangsa.

Terima kasih atas apresiasinya Madame Marlina Barokallah

Mantap betul, Bu Dokter Izzuki.

Aamiin, hahahaha, sampai berpantun pun tidak jelas rima nya terima kasih apresiasinya Bunda

takut kalah Bunda, hahhaha, terima kasih apresiasinya

Masyaa Allah. Mantap. Gercep

Terima kasih atas apresiasinya Madame Marlina Barokallah

Mantap betul, Bu Dokter Izzuki.

Aamiin, hahahaha, sampai berpantun pun tidak jelas rima nya terima kasih apresiasinya Bunda

takut kalah Bunda, hahhaha, terima kasih apresiasinya

Masyaa Allah. Mantap. Gercep


Leave a Reply to Izzuki Muhashonah Cancel reply