Semangat Melawan Kontraktur

Semangat Melawan Kontraktur

Bulan November 2025 lalu saya menjalani operasi yang tidak elit, hahahha… Mengapa tidak elit? Saat itu ada sesuatu hal yang membuat saya kalang kabut merasa sangat nyeri, tapi tidak elok disebut khalayak ramai. Rasa nyeri yang saya alami ini mempunyai skor nyeri 8 – 9 dari 10 mampu membuat saya terkapar tidak berdaya. Lupakan waktu itu, Bismillah, semoga tidak terjadi pada saya selanjutnya dan tidak terjadi pada Bapak Ibu semua.

Nah, pada saat bersamaan, Bapak saya juga menjalani operasi. Beliau mengalami patah tulang patologis pada paha kiri atas. dr. Andre, Sp.OT(K). melakukan arthroplasty pada colum femur sinistra dua hari sebelum saya menjalani operasi. Sedikit mengenai patah tulang patologis adalah patah tulang yang terjadi pada saat terjadi penurunan masa densitas atau kepadatan tulang. Kondisi yang rapuh dan keropos dapat menjadi patah akibat trauma ringan atau benturan ringan yang seharusnya tidak mematahkan tulang normal, bahkan terkadang terjadi tanpa jatuh (fraktur kompresi). Nah, kejadian saat Bapak saya ini adalah beliau terjatuh saat akan berdiri dari sujud saat Sholat Dhuhur.

Operasi arthroplasty ini berhasil baik dan luka sembuh sempurna, tanpa keluhan. Bapak dipulangkan dari rumah sakit oleh dr. Andre setelah 5 hari perawatan. Saat menuntaskan administrasi keluar rumah sakit, dokter memesan untuk rutin melakukan latihan agar terus bergerak dan berjalan pada akhirnya. Tim rehabilitasi medis di Lamongan dipesan untuk rutin hadir di rumah dan melakukan terapi fisik.

Ternyata dalam perjalan waktu, sama seperti pasien pasca arthroplasty lainnya, Bapak merasa ketakutan untuk bergerak, sehingga waktu demi waktu mengalami kontraktur dan otot-otot menjadi kaku dan atrofi (massa otot menjadi lebih kecil). Semua activity daily living (ADL)nya harus dibantu oleh orang lain. Dan hal ini berlangsung selama kurang lebih 3,5 bulan.

Kontraktur ini membuat saya bersedih, tetapi membuat saya agak memaksa orang tua saya untuk berkenan pindah tempat tinggal sementara. Alhamdulillah, Ibu berkenan diajak ke Kraksaan dan Bapak juga. Rencana membawa orang tua ke Kraksaan terkendala, rumah Kraksaan banjir untuk pertama kalinya setelah 23 tahun saya bertinggal di Perum Bumi Konang Indah ini. Hujan deras disertai petir dan gludug membuat kami menunda keberangkatan Bapak Ibu ke Kraksaan.

Akhirnya, setelah cuaca lebih kondusif, Bapak Ibu diantar oleh Dik Mina, anak kelima dari Bapak Ibu menuju Kraksaan. Alhamdulillah, tepat satu jam sebelum waktu berbuka, Bapak Ibu sudah menyampai di Kraksaan pada tanggal 1 Maret 2026. Dan kita berbuka Nasi Briyani bersama-sama.

Saat menyampai di Kraksaan, dr. Sagung, Sp.KFR yang biasa saya panggil Mbok Aas, saya undang untuk mengevaluasi konfisi fisik Bapak. Mbok Aas memberikan advice tahapan untuk latihan rutin dan pemakaian alat TENS setiap 2 hari sekali. Dan sampai tulisan ini saya tulis, latihan ini sudah mencapai hari kedelapan. Latihan rutin dibantu oleh Mas Faisal Yuliansyah, fisioterapist dari RSUD Waluyo Jati.

Delapan hari berlatih, otot-otot yang awalnya mengalami kontraktur berangsur-angsur membaik. Kondisi Bapak pun semakin bersemangat menjalani latihan. Bismillah, semoga semakin bersemangat dan semakin kuat berjalan.

Kraksaan, 9 Maret 2026
🦋Izzuki Muhashonah, Pembelajar asal Kab. Lamongan
Ketua Yayasan Al Amin Tunggul Paciran Lamongan https://www.smasalaminpaciran.sch.id/
Dokter Spesialis Patologi Klinik RSUD Waluyo Jati dan Rumah Sakit Rizani Probolinggo
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya https://s1kedokteran.fk.unesa.ac.id

6 Comments

Leave a Reply to Izzuki Muhashonah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *