Masker Cinta

Masker Cinta

//Sayangi diri sebelum menyayangi orang lain//

Matahari mulai tenggelam. Langit mulai terlihat menggelap. Kulihat persediaan telurku hampir kosong. Hanya terlihat satu butir. Sedangkan hari segera berganti malam. Dan masakan di meja belum kunjung siap. Tidak satupun siap disantap. 

“Tolong Ibu, Nak, tolong belikan telur ya!” 

Tidak satupun anaku beranjak. Kuulangi sekali lagi…
“Tolong Ibu, Nak, beli telur di warung sebelah!” seruku lebih keras.
“Uang ada di kaleng.”

Srek srek… dan cekrek… Pintu terbuka membuatku spontan menoleh. Terlihat si Kakak tergopoh-gopoh berjalan. Sandal diseret dengan malas. Dengan wajah ditekuk, dia teruskan langkah. Wajah gantengnya cemberut. Mata elangnya meredup. Pandangan lurus kedepan. Seolah-olah menerjang apapun yang ada didepannya. 

“Mas…, tunggu, Nak!” ku sapa Kakak pelan
“Maskermu mana?” lanjutku. 
Terlihat dia meraba telinga. Tidak ada tali terlilit. Sontak dia berbalik. Membuka pintu kembali. Sambil nyengir mengambil masker didalam lemari. Masker berwarna biru pilihannya. Masker 3 lapis. 
Bibirku tergerak. 1 cm ke kanan. 1 cm ke kiri. Melihat tingkahnya yang lucu. Meski terlihat dongkol, tapi manis juga. 

“Maaf ibu, aku lupa!” serunya. 
“Makasih Ibu, sudah diingatkan.” Wajahnya terlihat mencerah. Tersenyum manis mendekatiku. Tangannya terulur. Sambil membungkukkan badan, ia mencium tanganku. Aku terdiam sejenak. Kuletakkan pilinan benang rajutku. Ku sentuh ubun-ubunnya. Sambil kulantunkan doa dalam hening. Sejenak menikmati kebersamaan. Ah… kamu anakku, kelak ada masanya kamu tidak mau bermanja dengan Ibu. 

“Mengapa sih Bu, kita harus bermasker?” tanya anak gadisku. 
“Pandemi yang melanda, membuat kita harus pandai menempatkan diri Nak!” jawabku
“Kan hanya ke warung sebelah, kenapa bermasker?” lanjutnya kepo. 
“Apakah kalau kita ke warung sebelah kita lantas berhenti bernapas?”
“Mmmmhhh, iya ya… karena paling banyak menularnya lewat saluran napas ya Bu?” ujarnya. Matanya menyorot tajam. Sambil sesekali bernapas panjang. Gelengan kepala terlihat. Seakan beban berat dipundak. 

Tak seberapa lama raut berubah. Mata sayu nya seakan berkelebat. Kening berkerut. Ekspresinya mengeras. Penasaran. 
“Apasih masker itu, Bu?” ucap Adik ingin tahu. 
“Penghalang yang paling efektif untuk agen penyebab pandemi ini adalah masker.” ujarku perlahan. Wajahnya yang ayu semakin merapat. Penasaran dengan masker. Kerutan dahi bertambah. 

“Agen, apalagi itu Bu?” ujarnya ingin menahu.
“Yang menyebabkan pandemi ini, virus SARS-CoV-2 namanya.” 
“Ukurannya sangat kecil. Dan bisa melesat masuk kedalam saluran napas kita apabila kita tidak menutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin.”
Adik manggut-manggut. Tanda sedikit mengerti. Jiwa ingin tahunya meronta. Terus menerus mencari petunjuk.
“Oke, berarti kita pakai masker agar virus itu tidak masuk kedalam mulut dan hidung kita ya, Bu?”

Kuanggukkan kepala. Sembari ku elus rambut anak gadisku. Yang semakin ndusel masuk ke pelukan.
“Termasuk bisa menghindar dari orang batuk dan bersin.” 
“Apa perlu kita bermasker double biar virus tidak masuk, Bu?” ucap Adik ingin tahu

Aku tidak serta merta menjawab. Kubiarkan anak gadisku mengembara. Mencari jawab atas tanya. 
“Tolong ambilkan Ibu masker, Nak, dua ya…!” 
“Coba Adik pakai dengan baik, kemudian cobalah bernapas biasa!” 
Satu masker terpakai. Adik membetulkan letak masker. Mulut, hidung dan dagu tertutup sempurna. Strip metal disesuaikan degan hidung. Tidak ada celah. Bagian hidung, samping, dan dagu tertutup dengan baik. Napas lancar dan tanpa mengeluh. 

Dan tetiba sang Kakak datang dari warung, usil. Masker yang tergeletak di meja dipakaikan di wajah Adik. Double masker, seperti pertanyaan Adik. 
“Auuhh… Kak, engap, ga bisa napas!!” serunya panik. Sambil terus berupaya melepas masker yang dipasangkan sang Kakak. 
Sambil mengomel, Adik berhasil melepas masker kedua. Tak lupa memukul lengan sang Kakak gemas. Kakak terkikik. Ibu tersenyum bahagia. 

“Alhamdulillah… ternyata tidak perlu dua masker ya bu, Adik engap, tidak bisa bernapas dengan baik.” 
“Iya sayang, cukup satu masker saja, yang tahan air,” Ibu melanjutkan. 

“Coba kita bayangkan, bila kita memakai masker disposable double, maka berapa banyak sampah kita hasilkan?” sela Kakak. 
“Iya ya… kita pun harus menjaga lingkungan.” gumam Adik. 
“Yuk kita baca guideline WHO bareng-bareng…, biar kita sama-sama menahu.” lanjutnya kemudian. 

***

“Pastikan masker cocok dengan wajah kita, atau fit. Mempunyai bahan penyaring yang baik. Pemakai masker dapat bernapas dengan baik.”

***

Youtube Masker, perlindungan terhadap droplet (Youtube Izzuki-LINK, 2022)

“Mmmhhhmm, kenapa masker harus tiga lapis ya?” gumam Adik. 
“Ya iyalah, Dik, intinya masker itu mencegah virus dari kita tidak ditularkan ke orang lain, dan sebaliknya, dari orang lain tidak menularkan ke kita.” jawab sang Kakak gamblang. 

Kakak mengambil gunting. Masker tergunting pinggirnya. Setiap lapisnya dipisah. Lapisan pertama. Lapisan kedua. Lapisan ketiga dan terluar. Tertata dan berjajar rapi di meja. Dengan telaten Kakak menjelaskan. 

“Lapisan dalam adalah bahan yang dapat menyerap saliva atau cairan kita.” jelas sang Kakak. 
“Bagian dalam ini bisa diganti dengan kain. Bahan yang menyerap cairan.” lanjut Kakak antusias. 
“Lapisan kedua adalah filter layer, bahannya spunbund.” 
“Lha, dan lapisan ketiga atau bagian luar ini harus berbahan water resistant, yang dapat menghambat masuknya droplet.” 

“Jangan kebalik ya, Dik!” ucap Kakak penuh penekanan. 
“Bagaimana cara menggunakan masker yang tepat itu, Kak?” lanjut Adik bertanya.
“Masker dipakai untuk menutupi area yang terbuka seperti mulut dan lubang hidung. Jadi masker yang tepat digunakan tepat menutup mulut dan hidung. Bukan di dahi atau di leher.” jawab Kakak tenang.

Kakak dan Adik terus berdiskusi. Aku beranjak ke dapur. Menyiapkan makan malam yang tertunda. Telur dadar istimewa dengan sambel bawang. Sayur sawi rebus. Sangat menggugah selera. Bau harum semerbak. Membuat liur menetes. Melet (Bahasa Tunggul = tergiur)
“Jadi kalau memakai masker kain, itu semua bahan adsorben ya, Kak?” tanya Adik ingin tahu. 
“Kain kan dapat menyerap cairan, Dik… cocok jadi adsorben.” jawab Kakak tenang. Sambil perlahan bergeser ke meja makan.  

Leaflet penggunaan Masker yang benar (Dokumen Izzuki, 2021)

Makanan tersaji di meja. Kedua anakku duduk mengelilingi meja. Masing-masing sibuk menuntaskan makan. Sesekali diselingi diskusi. 
Adik yang sering kali merasa gatal jika memakai masker. Riwayat alerginya lumayan parah. Sedikit protes. Tidak terima jika harus memakai masker medik. 
“Berarti Aku tidak boleh memakai masker kain kah, Kak?” 
“Boleh, siapa bilang tidak boleh?” jawab Kakak.
“Pakai masker kain yang berlapis tiga ya, usahakan ada pelapis water resistennya.” lanjut Kakak. 

“Kemarin temanku pakai masker sampai basah, Kak, bolehkah?” 
“Ya, akan jadi percuma, Dik, nempel semua virus nya pada masker yang basah tadi.”
“Upayakan setiap 4 jam, kamu ganti masker ya, Dik, agar masker tetap berfungsi baik.” ceramah Kakak bijak.

“Meskipun ya…, Covid-19 ini kita tidak tahu dimana dia bertinggal.” oceh Kakak. 
“Apakah ada di jalanan, ataukah di halaman rumah kita, ataukah pada siapapun yang kita temui, atau pada teman kita sendiri, saat foto bersama, saat makan bersama.” 
Kakak mengetuk dahi. Tangan terantuk-antuk dengan pelan. Sesekali terlihat menarik napas panjang. 
“Ini salah satu ikhtiar kita, Dik, untuk mengakhiri pandemi!”
“Meskipun sudah di vaksin, kita tetap harus bermasker ya!”

Leaflet ajakan menjaga diri dari Virus Covid-19 (Dokumen Izzuki, 2021)

“Yes… aku tahu kok Kak, 7 M kan ikhtiar kita lainnya!” celoteh Adik bangga. Cerita Kakaknya kemarin lusa masih dia ingat.  
“Iya, apa saja hayooo….” Kakak mengingatkan kembali. 
“Makai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, Membatasi mobilitas, Menghidari kerumunan, Menghindari makan bersama, dan Melindungi mata.” 
“Yes, aku dapat hadiah….” seru Adik gembira. 

Pletak. 
Sesuatu mendarat di jidat. Lapangan mulus terjitak. Adik meringis dan mengelus-elus jidat. Kakak terbahak. Sambil memegangi perut. Ibu geleng-geleng kepala. Melihat keakraban anak lanang dan anak gadisnya. 
“Semoga brotherhood kalian terjaga dengan baik, Anak-anakku!” doa kupanjatkan. 
“Menjadi anak shalih dan shalihah, qurrota a’yun, saling menjaga dan menyayangi, Aamiinn.”

Masker Cinta ini adalah tulisan lama, saat pandemi lalu yang saya repost karena saat ini kita juga masih dalam kondisi meningkatkan kewaspadaan karena virus Covid kembali menggemparkan dunia.
Kepunden baru, 29 Juni 2021

#JeniusWriting
#JW100kreatifus
#menulisitusedekah
#selftalkjihad
#saveindonesia
#akhiripandemi
#saynotocovid
#yayasanalamintunggulpaciranlamongan
#mantepetan

12 Comments

  1. Anonymous

    Mudah2an kita terlindung dari penyakit dan selalu sehat. Trimakasih informasi ttg masker nya dr Izzuki. Ditunggu info2 kesehatan lainnya…👍

      • A. A. Sagung Mas Cahyandari

        Terima kasih dr. Izzuki, memang pemakaian master yang benar akan melindungi kita dari paparan penyakit melalui udara

      • Yusuf Mulia

        Tetap pakai masker ya meski sudah tidak di masa pandemi hehe

  2. Keluarga bahagia. Tempat berkumpul, bercanda, berbagi kehangatan dan keakraban. Terima kasih ilmu yang dibagikan Bu Izzuki sangat bermanfaat

    • Alhamdulillah, perlu diingat, saat menggunakan masker di leher, kalau pas di foto kurang keren kan
      Hahaha

  3. Aas Aisah

    Terima kasih Bu Dokter. Info yang sangat bermanfaat dikemas dengan cerita menarik.

Leave a Reply to Siti Rohimah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *