Gayo Highland, Kopi Aroma Spesial, Pesona Kota Takengon dan Pesona Kawasan Transmigrasi

Gayo Highland, Kopi Aroma Spesial, Pesona Kota Takengon dan Pesona Kawasan Transmigrasi

Oleh-oleh Tim Ekspedisi Patriot yang memotret kawasan transmigrasi adalah selalu menarik.

Jum’at malam selalu ditunggu oleh anggota IRo-Society, sebuah komunitas yang senantiasa meng-empowering and enlightening, selalu meng-upgrade kemampuan dan ketrampilan anggotanya. Kajian Spesial Jum’at Malam (KSJM) yang saat ini, tanggal 19 September 2025 merupakah KSJM ke-291 menghadirkan tema kopi, oleh-oleh dari narasumber kita saat pengembangan kawasan transmigrasi di Aceh Tengah. Seri KSJM Transmigrasi ketiga setelah Musamus, Salor dan Flobamora yang istimewa. KSJM ke-291 ini digawangi oleh Madame Marlina Armansyah, IRo-Society Pekanbaru yang selalu mengaduk-aduk suasana dengan pantunnya yang indah.

Prof. Imam memberikan keynote speach nya, “Ilmu tinemune kanthi laku, ilmu dapat diperoleh atau diwujudkan melalui praktik, dan itu adalah yang sudah dilakukan oleh Prof. Subchan.” Prof. Imam tidak lupa memberikan apresiasi untuk peserta KSJM perempuan atau ibu-ibu, apabila yang hadir dalam kegiatan adalah ibu-ibu, maka satu orang akan menyebarkan ilmu tersebut minimal kepada 6 orang disekitarnya atau circlenya. Salah satu bukti kaum terkuat di muka boemi senantiasa menguasai dimanapun berada dengan multi talenta yang dikuasai.

Dalam kesempatan itu, Prof. Subchan, yang merupakan guru besar dari Departemen Matematika, ITS yang juga Ketua TEP Kawasan Ketapang Nusantara, Aceh Tengah memaparkan kegiatan TEP Aceh Tengah ini dengan semangat. TEP atau Tim Ekspedisi Patriot ini bekerja di kawasan transmigrasi, merupakan program Kementerian Transmigrasi yang menugaskan peneliti muda untuk memetakan potensi sumber daya, mengidentifikasi komoditas unggulan, dan merumuskan strategi pengembangan di lokasi-lokasi transmigrasi di seluruh Indonesia. Alangkah bahagianya mendapat kesempatan mengikuti TEP ini.

Saat memberikan materi, Prof. Subchan berada di daerah Jagong Jeget, sebuah kecamatan di Kabupaten Takengon, Aceh Tengah yang bersuhu 15 – 160C. Beliau memberikan video perkenalan mengenai Jagong Jeget yang mana perubahan di sana akan mudah dilakukan apabila diterima dengan baik oleh putra daerah. Prof. Imam menanggapi melalui chat box, “Oh ya bener…, 1600 mdpl, ini seperti di Nepal van Java, pasti dingin.” Dalam video tadi mengenalkan daerah transmigran yang banyak dihuni oleh orang Jawa.

Perjalanan ke Jagong Jeget ini membutuhkan 9 jam dari bandara kualanamu, dengan jalan yang berkelok kelok indah. Daerah Ketapang Nusantara ini adalah daerah Transmigran, yang terdiri dari kecamatan Linge. Pada akhirnya Jagong Jeget ini menjadi kecamatan tersendiri dengan asal transmigran berbeda-beda dari seluruh tanah air, terbanyak adalah dari Jawa. Tinggal di Kecamatan Jagong Jeget sangat menyenangkan, semua menjadi keluarga besar.

Prof. Subchan bersama 5 orang dari team dari Unpad yang bertugas untuk pemetaan wilayah dan lima orang dari team ITS bertugas meningkatkan produksi kopi. Kopi di Jagong Jeget ini mudah ditemui dan dapat dipetik langsung. Kata Jagong Jeget ini mirip dengan Bahasa Sunda, yang dalam bahasa Indonesia berarti jagung warna merah kuning rambut jagung. Terbanyak adalah petani kopi, yang konon beritanya pak menteri akan membuat rumah kopi di Jagong Jeget ini.

Live streaming KSJM ke-291 di Izzuki-LINK, IRo-Society 2025

Prof. Subchan memberikan kesempatan kepada Teh Fadhil, mojang Sumedang untuk memberikan informasi mengenai kopi. Ternyata kopi Aceh ini terbanyak memproduksi kopi di Nusantara. Kopi akan menjadi komoditas yang diunggulkan dan akan membawa kesejahteraan para petani dan masyarakatnya. Kopi akan menjadi nikmat tergantung dari komponen mikro nutrisi tanah tempat kopi bertumbuh dan berkembang. Masyarakat di Jagong Jeget ini, yang diwakili oleh Pak Eko, sudah memulai pola organik meskipun belum 100%. Pola tanam yang digunakan saat ini mempunyai hasil produksi lebih banyak dan lebih produktif.

Pola tanam yang mengatur jarak penanaman tanaman kopi dan nutrisi tertentu ini mempunyai masa panen lebih cepat, yaitu 18 bulan. Pak Eko berkolaborasi dengan putra beliau yang melanjutkan produksi kopi. Putra Pak Eko, Mas Nanda melakukan fermentasi kopi selama 120 jam, membuat kopi ini mempunyai aroma buah atau rempah. Cherry kopi yang berwarna merah, tanpa dikupas akan dicampur dengan fermentan sesuai dengan aroma yang diinginkan. Hal ini membuat penikmat kopi menjadi lebih mempunyai kenangan spesial.

Pengolahan fermentasi kopi, Video oleh-oleh dari MPP PT. POMI di Batu Jawa Timur, 2024

Proses pasca panen ini membutuhkan waktu lama dan membutuhkan kesabaran, untuk selanjutnya dilakukan pengemasan dan pengiriman. Pak Eko sudah mengekspor kopi kemasan putranya sampai ke negeri tetangga, Malaysia. Para petani selain Pak Eko, belum memproses kopi seperti Pak Eko, rata-rata menjual cherry merah kopi dengan harga Rp 17.000/kg. Perlu pendampingan terus-menerus untuk memproses biji kopi agar lebih optimal hasilnya. Termasuk dengan mengupayakan perawatan kebun kopi secara organik, untuk menjaga ekosistem jangka panjang.

Perjalanan menuju Jogeng Jeget yang sangat ekstrim, 9 jam dengan pemandangan perbukitan yang sangat indah. Dari Takengon menuju Jagong Jeget dengan ketinggian 1400 mdpl ini menggunakan Hiace terasa sangat mendebarkan. Selain dingin, kanan kiri jalan terlihat jurang dan perbukitan.

Wah, keren banget kan, meskipun saya tidak pecinta kopi, tapi saya sangat menyuka membeli kopi untuk oleh-oleh suami saya tercinta, KangMas Sapto Wilujeng, Bapak Ibu saya dan terkadang saudara saya. Termasuk saat saya berkunjung ke Aceh, saat Muktamar IDI tahun 2022 lalu.
Semoga program TEP memberikan manfaat untuk pengembangan kawasan transmigrasi.

🦋Izzuki Muhashonah, Pembelajar asal Kab. Lamongan
Ketua Yayasan Al Amin Tunggul Paciran Lamongan https://www.smasalaminpaciran.sch.id/
Dokter Spesialis Patologi Klinik RSUD Waluyo Jati dan Rumah Sakit Rizani Probolinggo
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya https://s1kedokteran.fk.unesa.ac.id

6 Comments

  1. Kereeeen

    Kecepstan mengalahkan kesempurnaan
    Bu dr. Izzuki terbukti telah menjadi santri IRo dengan predikat ‘Suma Cum laude’
    Barakallah.

  2. Endang Supriyati

    Masyaa Allah. Mantap. Gercep

  3. Hj. Marlina Armansyah

    Mantap betul, Bu Dokter Izzuki.

Leave a Reply to Hj. Marlina Armansyah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *